Usai pengajian
seorang santri bertanya:
Kiai, saya tidak pernah
tinggalkan sembahyang
tidak pernah telat zakat
tidak pernah lupa ngaji
bahkan sudah tunaikan haji
berbakti kepada orang tua
baik dengan tetangga
tapi, satu... susah kutinggal
mm.. main perempuan
apakah Kiai,
dengan semua ibadahku
dengan semua kebaikanku
bisa terhapus dosa zinaku
atau paling tidak, impas
dengan kesalahanku
Kiai nyaris terbang dari sajadahnya
terkejut dengan pertanyaannya
setelah tenang kiai pun berkata,
Santriku, ambilah jawabanku
dari kisah ini:
Kelak, di hari Pembalasan
seorang ahli ibadah dihadapkan
lima abad lebih hidupnya
didedikasikan untuk ibadah semata
dipanggillah dia: 'Hai hamba-Ku,
masuklah ke surga-Ku karena rahmat-Ku!"
Si abid itu, tidak terima
setengah kaget seraya berkata:
"Tuhan, aku masuk surga karena amalku bukan?
Sebab, limaratus tahun lebih hidupku kudedikasikan
hanya beribadah kepada-Mu, Tuhan??"
Tunjukkan kepadanya
berapa nilai ibadahnya
cukupkah untuk membayar surga??
Malaikat rahmah menghitung
mengaudit seluruh amalnya
lima ratus tahun lebih lamanya
"Tuhan," Kata malaikat,
"nilai ibadahnya sepanjang lima ratus tahun lamanya
tidak cukup untuk membeli nilai sepasang mata
yang digunakan untuknya hidup di dunia
dinikmati untuk memandang segala...
Bagaimana mungkin masih sisa
untuk membeli surga??"
Kalau begitu,
jika dia tidak mau
masuk surga dengan Rahmat-Ku,
campakkan saja ke dalam neraka-Ku!
Meledak tangis si abid
melolong minta ampunan:
Tuhan, Ampunilah kelancanganku
Ampunilah kesombonganku
Benar, Jika tanpa rahmat-Mu
Aku pasti celaka...
Kiai larut dalam doa
santri tersedu dalam penyesalan
semua sadar akan kesalahan
terlalu bangga dengan amalan
padahal kelak di hari penentuan
Tiada yang tahu;
amal kita diterima Tuhan
atau dicampakkan
ke dalam jahanam
Tuhan, terimalah sedikit amalku
hapuskanlah segunung dosaku
Cucurilah aku dengan rahmat-Mu
27 November 2010
Wong Gemblung
waktu asar begini
kuingat petuah Kiai
menasehati tanpa menggurui
menegur tanpa menyakiti
Murid-muridku,
boleh aku bertanya:
"apa yang kan kau kata,
jika ada orang
sehari bepergian
seluruh isi rumah
dibawa sekalian
kasur dan bantalnya
dapur dan isinya
kursi dan mejanya
bahkan almari
berikut baju-baju bekasnya?"
ramai manjawab
orang sinting
gemblung
kenthir
gila
............
Kiai tersenyum dan berujar
jangan keburu menggila-gilakan orang
jangan suka menggemblung-gemblungkan orang
jangan mudah meng-kenthir-kenthirkan orang
jangan asal meng-gila-gilakan orang
jangan-jangan kita sendiri
justru yang GEMBLUNG itu...
Santriku...
kalian percaya hidup di dunia ini sebentar
orang kata, "Lir kadyo wong mampir ngombe."
Hanya sebentar seperti mampir minum
dan, kalian percaya hidup di akhirat selamanya
ada mulanya tiada akhirnya
tapi,
sejak kau buka mata, pikirmu hanya dunia
untuk sesuap nasi kau rela mati
untuk mendapat kursi kau sikut sana sini
demi gengsi kau berani korupsi
demi pangkat apa pun kau perbuat
demi jabatan apa pun kau halalkan
sholat, itu kalau ingat
zakat, itu bikin mlarat
haji, ah tunggu kaki-kaki
Santriku
untuk hidup sebentar di dunia
kau gunakan hampir seluruh hidupmu
untuk hidup selamanya
kau berikan sisa-sisa
Ah, jangan-jangan
kitalah yang pantas
bergelar WONG GEMBLUNG!
Wong Kenthir
wong gendeng
orang gila!
Maaf santriku,
jangan dimasukkan hati
karena yang bicara ini
Kiai GEMBLUNG sejati
kuingat petuah Kiai
menasehati tanpa menggurui
menegur tanpa menyakiti
Murid-muridku,
boleh aku bertanya:
"apa yang kan kau kata,
jika ada orang
sehari bepergian
seluruh isi rumah
dibawa sekalian
kasur dan bantalnya
dapur dan isinya
kursi dan mejanya
bahkan almari
berikut baju-baju bekasnya?"
ramai manjawab
orang sinting
gemblung
kenthir
gila
............
Kiai tersenyum dan berujar
jangan keburu menggila-gilakan orang
jangan suka menggemblung-gemblungkan orang
jangan mudah meng-kenthir-kenthirkan orang
jangan asal meng-gila-gilakan orang
jangan-jangan kita sendiri
justru yang GEMBLUNG itu...
Santriku...
kalian percaya hidup di dunia ini sebentar
orang kata, "Lir kadyo wong mampir ngombe."
Hanya sebentar seperti mampir minum
dan, kalian percaya hidup di akhirat selamanya
ada mulanya tiada akhirnya
tapi,
sejak kau buka mata, pikirmu hanya dunia
untuk sesuap nasi kau rela mati
untuk mendapat kursi kau sikut sana sini
demi gengsi kau berani korupsi
demi pangkat apa pun kau perbuat
demi jabatan apa pun kau halalkan
sholat, itu kalau ingat
zakat, itu bikin mlarat
haji, ah tunggu kaki-kaki
Santriku
untuk hidup sebentar di dunia
kau gunakan hampir seluruh hidupmu
untuk hidup selamanya
kau berikan sisa-sisa
Ah, jangan-jangan
kitalah yang pantas
bergelar WONG GEMBLUNG!
Wong Kenthir
wong gendeng
orang gila!
Maaf santriku,
jangan dimasukkan hati
karena yang bicara ini
Kiai GEMBLUNG sejati
Subscribe to:
Posts (Atom)